Senin, 24 Agustus 2020
Meningkatkan Kecerdasan Emosional
MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ( EQ )
Kecerdasan emosional (EQ) adalah bagaimana Anda mengekspresikan emosi dan mengatasinya dengan cara yang positif bahkan di situasi yang penuh tekanan. Orang dengan EQ tinggi sering mampu untuk berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, mengatasi kesulitan dan meredakan konflik. Pengetahuan dan pemahaman ini, sebagian besarnya, merupakan proses non-verbal yang membentuk pemikiran dan mempengaruhi seberapa baik Anda berhubungan dengan orang lain.
IQ dan EQ, apa bedanya?
Tidak seperti kecerdasan intelektual atau yang dikenal dengan IQ, EQ adalah kemampuan yang bisa dipelajari, bukan sesuatu yang Anda bawa sejak lahir. Namun, mempelajari kecerdasan emosional tak ada artinya jika Anda tidak menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan. Hanya karena Anda tahu bahwa Anda harus melakukan sesuatu, bukan berarti Anda akan melakukannya—terutama saat Anda terbebani stres, yang bisa mengalahkan niat baik Anda.
Seperti yang diketahui, menjadi orang tercerdas yang paling sukses tak menjamin Anda bisa menjadi orang paling sejahtera dalam hidup. Anda mungkin mengenal orang yang cemerlang secara akademis tetapi tidak kompeten secara sosial, dan tidak berhasil dalam pekerjaan atau hubungan pribadinya. Kecerdasan intelektual (IQ) tidaklah cukup untuk dengan sendirinya sukses dalam kehidupan.
Ya, IQ Anda bisa membantu Anda masuk ke perguruan tinggi, tetapi kecerdasan emosional alias EQ-lah yang akan membantu Anda mengatasi stres dan emosi saat menghadapi ujian akhir. IQ dan EQ ada secara bersamaan dan akan paling efektif saat keduanya saling membangun satu sama lainnya.
Empat hal dalam hidup Anda yang bisa berantakan tanpa EQ
1. Kinerja Anda di sekolah atau pekerjaan
Kecerdasan emosional dapat membantu Anda mengatasi masalah sosial di tempat kerja, memimpin dan memotivasi orang lain, dan menjadi unggul dalam karir Anda. Bahkan, jika sudah menyangkut penilaian calon karyawan, banyak perusahaan yang sekarang menganggap kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kemampuan teknis dan menggunakan tes EQ sebelum mempekerjakan mereka.
2. Kesehatan fisik Anda
Jika tidak mampu mengatasi emosi, kemungkinan Anda juga tidak bisa mengatasi stres. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan serius.
Stres yang tidak terkendali bisa meningkatkan tekanan darah, menekan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, berkontribusi terhadap ketidaksuburan, dan mempercepat proses penuaan. Langkah pertama untuk meningkatkan kecerdasan emosional adalah dengan belajar cara meredakan stres.
3. Kesehatan mental Anda
Emosi dan stres yang tidak terkendali juga bisa berdampak pada kesehatan mental, membuat Anda rentan terhadap kecemasan dan depresi. Jika Anda tidak bisa memahami emosi Anda, tidak merasa nyaman dengan emosi Anda, dan tak bisa mengatasi emosi Anda, Anda akan berisiko tidak mampu membangun hubungan yang kuat, yang bisa membuat Anda merasa kesepian dan terisolasi.
4. Hubungan Anda dengan orang lain
Dengan memahami emosi Anda dan mengetahui cara mengatasinya, Anda akan lebih mampu mengekspresikan bagaimana perasaan Anda dan memahami perasaan orang lain. Ini memungkinkan Anda untuk berkomunikasi secara lebih efektif dan membangun hubungan yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun di kehidupan pribadi Anda.
Enam kunci untuk meningkatkan EQ
1. Mengurangi emosi negatif
Mungkin inilah aspek EQ yang paling penting, yaitu kemampuan untuk mengatasi emosi diri secara efektif sehingga tidak membebani pikiran dan tidak mempengaruhi kemampuan Anda mengambil keputusan.
Untuk mengubah perasaan negatif Anda tentang suatu situasi, pertama Anda harus mengubah cara berpikir Anda tentang hal tersebut. Misalnya, cobalah agar tidak mudah berprasangka buruk terhadap tindakan orang. Ingat, mungkin saja ada maksud baik di balik tindakan mereka.
2. Berlatih tetap tenang dan mengatasi stres
Sebagian besar orang pasti pernah mengalami stres dalam kehidupan. Bagaimana Anda mengatasi situasi stress ini akan mempengaruhi EQ. Misalnya, apakah Anda bersikap asertif, atau reaktif? Tetap tenang, atau kewalahan?
Saat berada dalam tekanan, hal paling penting untuk diingat adalah menjaga diri tetap tenang. Misalnya dengan membasuh wajah dengan air dingin atau mulai berolahraga aerobik untuk mengurangi stres.
3. Berlatih mengekspresikan emosi yang tak mudah
Ada masa-masa dalam kehidupan di mana Anda perlu untuk membuat batasan sehingga orang lain tahu di mana posisi Anda. Ini bisa mencakup:
- memberanikan diri untuk tidak sependapat dengan orang lain (tanpa bersikap kasar)
- berkata “tidak” tanpa merasa bersalah
- menetapkan prioritas pribadi
- berusaha mendapatkan apa yang berhak Anda dapatkan
- melindungi diri sendiri dari tekanan dan gangguan.
4. Bersikap proaktif, bukan reaktif, saat berhadapan dengan orang yang memicu emosi Anda
Kebanyakan orang pasti pernah dihadapkan pada orang-orang yang menyebalkan atau mempersulit hidup Anda. Anda mungkin akan “terjebak” dengan orang seperti ini di tempat kerja atau bahkan di rumah. Sangat mudah untuk membiarkan orang-orang seperti ini memengaruhi Anda dan merusak hari Anda.
Anda dapat mencoba menenangkan diri dulu sebelum Anda berbicara dengan orang yang sering memicu emosi negatif di diri Anda, terutama ketika Anda merasa marah. Anda juga bisa mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang tersebut.
Namun demikian, berempati bukan berarti mentoleransi perilaku yang tidak pantas. Anda tetap perlu menekankan bahwa ada konsekuensi untuk segala hal.
5. Kemampuan untuk bangkit dari kesulitan
Hidup tidak selalu mudah—semua orang tahu itu. Bagaimana Anda memilih untuk berpikir, merasa, dan bersikap saat dalam situasi sulit, sering kali bisa menentukan apakah Anda akan terus punya harapan atau malah putus asa, apakah Anda akan terus optimis atau malah frustrasi, dan apakah Anda akan mengalami kemenangan atau justru kekalahan.
Dalam setiap situasi sulit yang dijumpai, ajukan pertanyaan seperti,
- “Apa pelajaran yang bisa diambil di sini?”
- “Bagaimana saya bisa belajar dari pengalaman ini?”
- “Apa yang paling penting sekarang?”
- “Jika saya berpikir dengan cara yang berbeda, apa ada jawaban yang lebih baik?”
Semakin tinggi kualitas pertanyaan yang Anda ajukan, semakin baik pula jawaban yang akan Anda dapatkan. Ajukan pertanyaan yang membangun berdasarkan proses belajar dan prioritas, dan Anda bisa mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk membantu Anda mengatasi situasi yang sedang dihadapi.
6. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dalam hubungan pribadi
Kemampuan untuk secara mengungkapkan emosi penuh kasih sayang sangat penting untuk mempertahankan hubungan pribadi yang erat. Emosi ini dapat tersampaikan melalui perkataan, bahasa tubuh, dan perilaku. Misalnya melalui kontak mata yang positif, senyum, mendengarkan dengan empati, atau sekadar menawarkan makanan.
Anda tak hanya harus bisa berbagi perasaan mendalam dengan orang lain dalam hubungan pribadi Anda, namun Anda juga harus dapat merespon dengan positif saat orang tersebut mengekspresikan emosi yang mendalam kepada Anda.
Rabu, 19 Agustus 2020
Belajar Aktif dan Gaya Belajar
Salah satu metode belajar aktif yang sering diwacanakan di era pendidikan nasional sekarang ini yaitu Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
Macam-Macam Gaya Belajar
1.Gaya Belajar Visual
Individu yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual lebih senang melihat apa yang sedang dipelajari. Gambar/visualisasi akan membantu mereka yang memiliki gaya belajar visual untuk lebih memahami ide atau informasi daripada apabila ide atau informasi tersebut disajikan dalam bentuk penjelasan. Apabila seseorang menjelaskan sesuatu kepada orang yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual, mereka akan menciptakan gambaran mental tentang apa yang dijelaskan oleh orang tersebut. Ciri-ciri gaya belajar visual :
a. Bicara agak cepat
b. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
c. Tidak mudah terganggu oleh keributan
d. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
e. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
f. Pembaca cepat dan tekun
g. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
h. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
i. Lebih suka musik dari pada seni
j. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
a. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
b. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
c. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
d. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
e. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
2. Gaya Belajar Auditorial
Sementara itu, individu yang cenderung memiliki gaya belajar auditorial kemungkinan akan belajar lebih baik dengan mendengarkan. Mereka menikmati saat-saat mendengarkan apa yang disampaikan orang lain.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
a. Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
b. Penampilan rapi
c. Mudah terganggu oleh keributan
d. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
e. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
f. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
g. Biasanya ia pembicara yang fasih
h. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
i. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
j. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
k. Berbicara dalam irama yang terpola
l. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
a. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
b. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
c. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
d. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
e. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur
3. Gaya Belajar Kinestetik
Individu yang memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik akan belajar lebih baik apabila terlibat secara fisik dalam kegiatan langsung. Mereka akan belajar sangat baik apabila mereka dilibatkan secara fisik dalam poembelajaran. Mereka akan berhasil dalam belajar apabila mereka mendapat kesempatan untuk memanipulasi media untuk mempelajari informasi baru.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
a. Berbicara perlahan
b. Penampilan rapi
c. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
d. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
e. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
f. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
g. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
h. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
i. Menyukai permainan yang menyibukkan
j. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
k. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
a. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
b. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya
Perlu diingat bahwa tidak ada cara yang salah dalam belajar. Setiap orang adalah unik dan setiap gaya belajar memberikan keuntungan serta begitu pula kekurangan masing-masing.
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
Macam-Macam Gaya Belajar
1.Gaya Belajar Visual
Individu yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual lebih senang melihat apa yang sedang dipelajari. Gambar/visualisasi akan membantu mereka yang memiliki gaya belajar visual untuk lebih memahami ide atau informasi daripada apabila ide atau informasi tersebut disajikan dalam bentuk penjelasan. Apabila seseorang menjelaskan sesuatu kepada orang yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual, mereka akan menciptakan gambaran mental tentang apa yang dijelaskan oleh orang tersebut. Ciri-ciri gaya belajar visual :
a. Bicara agak cepat
b. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
c. Tidak mudah terganggu oleh keributan
d. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
e. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
f. Pembaca cepat dan tekun
g. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
h. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
i. Lebih suka musik dari pada seni
j. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
a. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
b. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
c. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
d. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
e. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
2. Gaya Belajar Auditorial
Sementara itu, individu yang cenderung memiliki gaya belajar auditorial kemungkinan akan belajar lebih baik dengan mendengarkan. Mereka menikmati saat-saat mendengarkan apa yang disampaikan orang lain.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
a. Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
b. Penampilan rapi
c. Mudah terganggu oleh keributan
d. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
e. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
f. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
g. Biasanya ia pembicara yang fasih
h. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
i. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
j. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
k. Berbicara dalam irama yang terpola
l. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
a. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
b. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
c. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
d. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
e. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur
3. Gaya Belajar Kinestetik
Individu yang memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik akan belajar lebih baik apabila terlibat secara fisik dalam kegiatan langsung. Mereka akan belajar sangat baik apabila mereka dilibatkan secara fisik dalam poembelajaran. Mereka akan berhasil dalam belajar apabila mereka mendapat kesempatan untuk memanipulasi media untuk mempelajari informasi baru.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
a. Berbicara perlahan
b. Penampilan rapi
c. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
d. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
e. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
f. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
g. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
h. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
i. Menyukai permainan yang menyibukkan
j. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
k. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
a. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
b. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya
Perlu diingat bahwa tidak ada cara yang salah dalam belajar. Setiap orang adalah unik dan setiap gaya belajar memberikan keuntungan serta begitu pula kekurangan masing-masing.
Sabtu, 15 Agustus 2020
ICE BREAKING
Assalamu'alikum , selamat siang anak-anak ibu. Mari kita fokus dengan gambar dibawah ini. Adakah yang bisa menjawab dengan tepat ? Mari kita berdiskusi bersama
Kamis, 13 Agustus 2020
ADAPTASI DI LINGKUNGAN SEKOLAH BARU
ADAPTASI DI LINGKUNGAN SEKOLAH BARU
Penyesuaian diri
terhadap lingkungan sekolah yang baru
Setiap
memasuki lingkungan yang baru kita pasti akan merasa asing, karena belum
mengenalnya, sering merasa bingung, malu takut serta ragu-ragu , banyak
ditemukan hal-hal yang baru yang tidak ditemukan pada waktu sekolah di kemarin. Ada peribahasa yang mengatakan “ kalau tak kenal maka tak sayang”
ini berarti kita harus mengenal lingkungan yang baru supaya dapat menyayanginya
atau merasa senang. Kalau kita sayang dan merasa senang maka kita akan betah
tinggal di dalam sekolah yang baru sehingga kita dapat bermain dengan gembira,
belajar dengan tenang dan dapat meraih prestasi yang optimal.
Untuk itu kita harus mengenal dan
memahami segala sesuatu yang ada dilingkungan
sekolah yang baru kita masuki, antara lain :
1.
Mata pelajaran yang ada diantara nya :
a. Pendidikan Agama
b. PPKn
c. Bahasa dan Sastra
Indonesia
d. Bahasa Inggris
f.
Matematika
g. IPA, antara
lain: Biologi dan Fisika
h. IPS, anatar lain
: Sejarah, Geografi, Ekonomi
i.
Pendidikan Kesenian
j.
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
k. Ketrampilan/Teknologi
Informasi dan Komunikasi
l.
Ketrampilan Elektronika
m. Tata Boga
n. Tata Busana/
Menjahit
o. Pembiasaan
p. Kegiatan
ekstrakurikuler.
2.
Guru-guru yang mengajar
3.
Ruang Perpustakaan
4.
Ruang Laborat
5.
Kamar mandi / WC
6.
Ruang
Kepala Sekolah, TU, Guru, BK
7.
Teman-teman satu kekas.
Selain guru mata pelajaran , ada juga
guru khusus yang membimbing siswa apabila menemui kesulitan atau problem dalam
belajar, bergaul, dan juga membantu siswa dalam mengembangkan bakat minat yang
dimilikinya, guru tersebut adalah Guru BK / Konselor sekolah. Di setiap kelas
terdapat guru yang bertanggung jawab mengurus dan mengawasi kelasnya, juga
berfungsi sebagai pengganti orang tua di sekolah, yang disebut dengan nama wali
kelas .
Di Sekolah yang baru kita akan mempunyai
teman-teman yang berasal dari sekolah
lain, juga kakak kelas, sebaiknya kita harus bisa bergaul dengannya.
Selain itu ada juga kegiatan di luar jam pelajaran sekolah yang disebut dengan
ekstrakurikuler, seperti : pramuka, PMR, PKS, kesenian, bela diri, keagamaan,
kita bebas memilih kegiatan tersebut sesuai dengan bakat dan hobi kita
masing-masing.
Belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah baru
Salah satu aspek keberhasilan seseorang
dalam belajar dilingkungan yang baru, adalah harus dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang akan ditempati. Agar
bisa belajar dengan baik dan supaya bisa mencapai hasil belajar yang optimal.
Dengan demikian maka siswa harus tahu seluk beluk, serta dapat menyesuaikan
dengan : Tata tertib sekolah, peraturan sekolah, sifat atau cara mengajar
Bapak/ Ibu guru, sifat-sifat teman-teman satu kelas dan sifat kakak kelasnya.
Agar dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah tanpa banyak
permasalahan, atau hambatan.
Dengan belajar menyesuaikan diri dengan
berbagai komponen-komponen sekolah dilingkungan yang baru, maka harapannya para
siswa dapat belajar dengan lebih efektip dan dapat berkembang secara optimal
sesuai dengan kemampuanya masing-masing. Adapun sekolah merupakan tempat
terjadinya proses kegiatan belajar mengajar. Keberhasilan belajar di Sekolah ,
selain harus dapat belajar menyesuaikan diri dengan komponen-komponen
lingkungan sekolah, juga sangat tergantung dari cara belajar yang harus
dilakukan oleh siswa, berikut ini ada beberapa cara belajar di Sekolah, antara
lain :
Persiapan belajar
dalam mengikuti KBM
Dalam
mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka siswa sebaiknya melakukan:
a. Doa, sebelum
pelajaran dimulai , agar diberi kemudahan dalam mengikuti pelajaran.
b. Menyiapkan diri
sebelum guru masuk kelas, seperti menyiapkan buku dan alat-alat tulis.
c. Memperhatikan dan
mendengarkan penjelasan guru mengenai pelajaran yang sedang dibahas dengan
penuh konsentrasi sehingga dapat memahami dan mengerti dengan mudah.
d. Bertanya kepada
guru bila belum jelas atau belum mengerti.
e. Mencatat hal-hal
yang penting.
f.
Diskusikan dengan teman-teman materi
yang dipelajari, sehingga memperoleh pemahaman dan kesamaan pendapat
g. Membuat
kesimpulan dari materi pelajaran yang dibahas.
Belajar mandiri.
Belajar
mandiri adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa sendiri, tanpa harus
disuruh oleh orang lain. Dengan membahas materi pelajaran yang ada
dibuku-buku pelajaran atau buku modul,
paket, pada jam-jam kosong, serta mendapat tugas dari guru atau guru piket.
Belajar mandiri dapat dilakukan di Sekolah maupun di rumah, dari hasil belajar
mandiri siswa akan mampu membuat suatu kesimpulan dan menyelesaikan tugas-tugas
dari guru. Pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra adalah sebagai berikut:
1. Setiap
individu berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai
keputusan.
2. Belajar
mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan
situasi pembelajaran.
3. Belajar
mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
4. Dengan
belajar mandiri, siswa dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa
pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain.
5. Siswa
yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan
aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog
elektronik, dan kegiatan korespondensi.
6. Peran
efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan
siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan
kreatif.
7. Beberapa
institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang
lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran
yang bersifat individual dan programprogram inovatif lainnya.
Belajar kelompok
Belajar
kelompok merupakan kegiatan belajar bersama-sama antara beberapa siswa dalam
satu kelompok, untuk membahas materi pelajaran yang diberikan atau ditugaskan
oleh gurunya. Anggota kelompok sebaiknya antara tiga sampai enam orang siswa,
agar tidak terlalu ramai, dan dapat membahas materi pelajaran dengan baik.
Dalam kegiatan belajar kelompok biasanya diadakan diskusi kelompok yaitu
membahas persoalan tertentu secara bersama-sama dengan menampung berbagai
pendapat dari masing-masing anggota kelompok, kemudian diambil suatu kesimpulan
atau hasil pendapat kelompok.
Contoh salah satu cara belajar kelompok antara lain
:
a. Menentukan anggota dan jumlahnya
b. Menentukan topik dan membaca buku atau modul pelajaran
bersama-sama.
c. Merangkum atau meringkas materi pelajaran
d. Mengerjakan tugas-tugas atau latihan-latihan bersama.
e. Mengadakan tanya jawab, satu siswa bertanya kepada siswa lainya
memberi jawaban dan dapat dilakukan
secara bergantian.
Mengadakan tanya jawab, membahas pokok-pokok
persoalan tersebut diatas kemudian menampung berbagai pendapat dari anggota
kelompok kemudian membuat kesimpulan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Cara Meningkatkan Motivasi Belajar
Nama Guru : Mitha Aviska, S. Pd., Gr Mata Pelajaran : Bimbingan dan Konseling Kelas : XI.F.S. 2 Materi : Meningkatkan Motivasi Belajar B...
-
Nama guru : Mitha Aviska, S.Pd Mata Pelajaran : Bimbingan dan Konseling Materi : Kepekaan D...
-
Nama Guru : Mitha Aviska, S. Pd Mata Pelajaran : Bimbingan dan Konseling Kelas : XI.E.1 Materi ...
-
Assalamu'alaikum , salam semangat untuk kita semua . Hari ini ibu akan memberikan Ice Breaking untuk kalian. Jawaban 2 tercepat dan tep...

